Raja Abhiseka Majapahit Hyang Bhatara Agung Surya Wilatikta Brahmaraja XI

Lahir di Blitar, Hyang Suryo demikian beliau dikenal, tokoh ini adalah putra dari Suryo Blitar.

Jika di runut silsilahnya ke atas masih TRAH SRI WILATIKTA BRAHMARAJA I dan DARA JINGGA. Berbagai penghargaan telah di raih, salah satunya mendapat gelar ” SRI WILATIKTA BRAHMARAJA XI ” (kutipan Laporan utama Posmo 11 April 2007 edisi 414 hal 25 oleh Husnu Mufid, wartawan senior)

Sejak kecil Hyang Suryo oleh Ayahnya di didik agama dan pengetahuan tentang sejarah Majapahit, tujuannya agar berbakti kepada leluhurnya dan tetap melestarikan budaya Majapahit, sebab budaya tersebut merupakan budaya yang adiluhung yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat ini.

Menginjak usia remaja, Hyang Suryo belajar Ilmu Kepanditaan / Brahmana kepada seorang Pandito. Bersamaan itu pula sering mengikuti upacara tradisi Majaahit seperti Otonan, Odalan, Diwinten baik berskala kecil maupun berskala besar yang di gelar di Bali.

Pada tahun 1963, Hyang Suryo mendapat kehormatan mengikuti upacara Eka Dasa Ludra yang di adakan 100 tahun sekali di Pura Besakih Bali. Setahun kemudian di percaya menghadiri Upacara Metatah oleh Bathari Agung Sagung Ayu Parameswari Puri Dangin di Bali.

“Saya benar-benar tersanjung mendapat kehormatan untuk mengikuti Upacara Eka Dasa Ludra yang di adakan 100 tahun sekali, karena tidak semua orang bisa mengikuti upacara tersebut,” ujar Hyang Suryo Wilatikta.

PRASASTI PATUNG GANESHA

Menginjak Dewasa Hyang Surya melakukan Dharma Bakti kepada leluhurnya dengan menetap di Puri Surya Majapahit Trowulan, Mojokerto. Dharma Baktinya itu semakin di kenal masyarakat luas, karena di lakukan sungguh-sungguh baik untuk masyarakat Mojokerto maupun Jawa khususnya dan Dunia Intenasional pada umumnya.

Pengabdiannya dalam melestarikan dan melaksanakan tata cara Majapahit secara murni serta konsekuen menghantarkan Hyang Suryo memperoleh Bintang DHARMA BAKTI BUDAYA pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2001 di Surakarta. Beberapa bulan kemudian mendapat pengakuan Dunia sebagai Raja Majapahit dengan gelar ABHISEKA SRI WILATIKTA BRAHMARAJA XI .

Juga mendapat HAK memakai gelar Brahmaraja XI dan generasi Majapahit dengan SK Keluarga Besar Majapahit Jogjakarta yang di Ketuai oleh Prof. DR. RM. Wisnu Wardana Surya Diningrat pada 15 Maret 2002.

Pada pertengahan tahun 2002, Hyang Suryo lebih banyak menetap di Puri Majapahit Jimbaran-Bali. Berbagai kegiatan di lakukan baik spiritual maupun keagamaan. Sejumlah Pura di dirikan. Di Pulau Dewata itulah kiprah nyatanya semakin banyak di ketahui masyarakat dan dunia internasional. Hal ini membuat delegasi Hindu Sangham Internasional mengunjunginya untuk bertemu sekaligus berbincang-bincang masalah budaya Majapahit. Puncaknya pada tanggal 12 Februari 2006 bersama Sukmawati Soekarno Putri meresmikan dan menanda tangani patung Ganesha TERTINGGI dan TERBESAR di Asia Tenggara di halaman Hotel Melka Lovina Singaraja Bali, pada tanggal 5 Desember 2006 mendapatkan penghargaan Hindu Muda Award 2006 dari pimpinan pusat forum intelektual Muda Hindu Dharma jalan Ken Arok Denpasar Bali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: